Aspek dan Sifat Manusia Sebagai Dasar Manajemen Bank Syari’ah
Manajemen yang kita kenal
sekarang ini adalah manajemen Barat yang individualistis dan kapitalistis. Di
dalam masyarakat yang individualistis, kepentingan bersama dapat ditangguhkan
demi kepentingan diri sendiri. Hal ini disebabkan karena mereka telah
meninggalkan nilai-nilai religius yang berdasarkan hubungan tanggung jawab
antara manusia dengan Tuhannya, baik mengenai suruhan yang ma’ruf dan
pencegahan yang munkar, semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhannya .
1. Kebutuhan fitrah
manusia sebagai dasar manajemen
Manusia itu terdiri dari
unsur jasmani dan rohani yang dilengkapi dengan akal dan hati. Unsur-unsur
manusia itu memiliki kebutuhannya masing-masing. Manusia mempunyai tubuh yang
tunduk pada hukum fisik, yang oleh karenanya merupakan subyek dari fisiknya.
Guna mempertahankan hidupnya manusia perlu makan, minum, pakaian dan
perlindungan (QS Al-A’raf (7):31). Tetapi manusia bukanlah semata-mata terdiri
dari tubuh saja, sehingga semua persoalan tidak dapat dengan hukum-hukum fisik
semata.
Manusia juga adalah
makhluk biologis, karena itu juga tunduk pada hukum-hukum biologis. Guna
melestarikan spesiesnya, manusia mempunyai alat reproduksi dalam dirinya yang
ditandai oleh kecenderungan berupa sex dan berkembang biak (QS. Ali Imran
(3):14).
Selain itu manusia juga termasuk makhluk sosial yang didorong oleh
watak aslinya untuk bergaul dengan manusia lainnya. Keinginan alamiah untuk
menjalin hubungan permanen antara pria dan wanita, ketergantungan anak manusia
akan perlindungan orang tuanya, keinginan manusia untuk membela kepentingan
keturunannya dan mempertahankan kasih sayang antara saudara sedarah, kesemuanya
itu merupakan kecenderungan alami yang mengarahkan mereka dalam membangun
kehidupan sosialnya. Agar manusia selalu terdorong untuk berusaha memenuhi
kebutuhannya, Allah menghiasi pula dengan nafsu dan keinginan, baik untuk
memperoleh kesenangan biologis (sex dan beranak pinak) maupun kesenangan
lainnya seperti kecintaan kepada harta yang banyak, dari jenis emas dan perak,
kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang (QS 3:14). Manusia adalah juga
merupakan makhluk moral spiritual, yang membedakan antara kebaikan dan
kejahatan, memiliki dorongan bawaan untuk mencapai realitas di luar pengertian
akal. Fungsi dari moral spiritual ini diperankan oleh hati. Dalam hal ini, hati
berfungsi memberikan pertimbangan kepada nafsu, apakah jenis kebutuhan yang
diinginkannya itu halal atau haram, bermanfaat ataukah membahayakan dirinya,
jumlah kebutuhan yang diinginkannya itu wajar ataukah berlebihan, dan cara
mendapatkannya itu layak ataukah tidak untuk diperturutkan dan dilaksanakan.
Tujuan hidup manusia sebagai tujuan manajemen
Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat (51):56. Inilah tujuan hidup
manusia menurut ajaran Allah SWT., yang berintikan tauhid (pengesaan Tuhan)
diikuti dengan seruan agar manusia beriman dan cinta kepada Allah dan Rasulnya
serta yakin akan adanya hari akhirat . Segala tindakan dan kegiatan manusia
hendaknya dilandasi motivasi untuk memperoleh keridlaan Allah, orientasinya
kepada kebahagiaan akhirat (tanpa melupakan bagiannya di dunia) dan aplikasinya
adalah ditegakkannya hukum (syariah) Allah di bumi. Inilah yang membedakannya dengan
orang-orang sekuler, yang motivasi dan orientasi sikap, tindakan dan
kegiatannya hanya untuk memperoleh kesenangan hidup di dunia saja, dan
aplikasinya adalah tujuan menghalalkan segala cara.
Bagi setiap muslim, keridlaan Allah adalah segala sumber dari
kebahagiaan, di dunia dan di akhirat. Dunia adalah ladang tempat bertanam,
hasil yang dinikmatinya di dunia adalah bagian kecil saja dari hasil yang
sesungguhnya akan diperoleh. Bagian hasil terbesar justru akan dinikmatinya di
akhirat. Allah, selain sebagai satu-satunya zat yang patut disembah (tauhid
uluhiyah), Allah jualah satu-satunya pengatur seluruh alam beserta isinya
(tauhid rubbubiyah). Manusia sebagai hamba-Nya wajib menyerahkan diri
bulat-bulat kepada-Nya dan rela untuk diatur oleh-Nya.
Beberapa faktor strategis dan fundamental harus dipertimbangkan
dalam menentukan penilaian dasar dan tujuan manajemen yaitu:
(a) Hak Asasi Manusia
(b) Hak dan kewajiban bekerja
(c). Akhlaqul karimah




No comments:
Post a Comment